BUKU THE DEATH OF FRANCHISE

https://www.zonadigipreneur.com/?p=116&preview=true

 

Kali ini saya mau mengulas sebuah buku bagus berjudul The Death of Franchise karya Anke Dwi Saputro. Kenapa saya katakan buku ini bagus, karena penulisnya adalah seorang profesional di media yang khusus membahas tentang bisnis sekaligus pengusaha yang menjalankan bisnis franchise (waralaba).  Jadi komplit ya, bukan cuma bisa berkomentar layaknya komentator olahraga tapi juga bisa memberikan wawasan dan solusi praktis. Jadi buat yang tidak punya latar belakang bisnis waralaba atau bahkan bisnis model apapun, buku ini wajib dilirik.

 

Apa yang membuat saya memutuskan untuk membaca buku ini?

 

Saat terbersit hasrat di hati untuk mulai mempelajari bisnis, maka langsung terpikir model dan jenis usaha apa yang pertama kali perlu saya pelajari. Setelah memperhatikan lingkungan di sekeliling saya, saya banyak melihat model usaha berjenis waralaba di Jakarta dari yang berskala kecil hingga besar. Melihat hal tersebut, terbersit di hati saya bahwa bisnis waralaba adalah bisnis yang menguntungkan karena tidak perlu membesarkan brand (merk produk) lagi, karena brand sudah terkenal atau minimal telah memiliki pelanggan setia. Lantas, apakah pemikiran saya ini benar atau sangat keliru? Untuk membuktikan hal tersebut, kemudian saya mencoba membaca buku The Death of Franchise untuk menemukan jawabannya.

 

Apa yang saya rasakan setelah membaca buku ini?

 

Jujur ya, saya suka sekali dengan buku The Death of Franchise karena memaparkan permasalahan di dalam model bisnis waralaba secara lengkap berikut contoh kasus nyata. Permasalahan ini biasanya menyangkut niat buruk ataupun kurangnya wawasan yang dimiliki oleh franchisor ataupun franchisee. Namun buku ini tidak berhenti hanya sampai disitu, buku ini menawarkan solusi agar terhindar dari hal-hal negatif tersebut. Buku ini dibagi ke dalam dua bagian, yaitu bagian pertama memaparkan penyebab bangkrutnya bisnis waralaba dan bagian kedua tentang solusi mengatasinya.

 

Permasalahan pertama yang dibahas di buku The Death of Franchise terkait penyebab bisnis waralaba bangkrut yaitu karena terlalu dini untuk dimitrakan. Menurut hemat penulis, bisnis yang usianya masih dibawah lima tahun biasanya belum mengalami fase-fase krisis sehingga belum teruji apakah dapat mengatasi permasalahan tersebut atau sebaliknya. Fase-fase krisis tersebut misalnya seperti fase krisis keuangan, krisis kepemimpinan, krisis manajemen sumber daya manusia, manajemen pengelolaan sistem bisnis, dan manajemen produk. Jika belum teruji mampu melewati fase-fase kritis tersebut namun dipaksa sudah dimitrakan maka banyak kasus yang terjadi adalah saat franchisor tidak mampu melewati fase kritis tersebut otomatis franchisor gagal memenuhi janjinya. Lantas tuduhan sebagai penipu akan dialamatkan oleh franchisee kepada franchisor.

 

Permasalahan kedua yang dibahas di buku The Death of Franchise adalah mengenai keterbatasan modal. Seringkali banyak dijumpai kasus dimana franchisor membuka waralaba karena ingin mendapatkan modal untuk ekspansi bisnisnya dari pihak lain yang merupakan nonbank. Alasan ini adalah alasan yang salah karena jika franchisor tidak memiliki dana yang cukup, maka jika suatu saat ditemukan permasalahan keuangan, franchisor tidak boleh menutup usahanya begitu saja karena dia harus merealisasikan janji yang telah dibuatnya untuk franchisee.

 

Adapun keterbatasan modal yang mendera franchisor seperti yang diungkap di buku The Death of Franchise yaitu bisa disebabkan oleh beberapa hal yaitu dana perusahaan terpakai untuk membiayai bisnis lainnya, terpakai untuk membiayai gaya hidup pemiliknya, terpakai untuk membiayai konflik dengan mitranya, produk yang dijual tidak memberikan keuntungan yang signifikan sehingga franchisor kesulitan menyuplai bahan permintaan franchisee, dan tidak memenuhi syarat pendanaan dari bank.

 

Lantas bagaimana dengan solusinya? Solusi yang dipaparkan di buku The Death of Franchise yaitu franchisee harus memiliki modal dana yang kuat. Sedangkan untuk franchisor, selain modal dana yang kuat dia harus memiliki catatan keuangan yang baik agar mudah mendapatkan pinjaman dari bank. Ciri franchisor dengan modal dana yang kuat yaitu mampu membiayai biaya operasional, mampu membeli biaya perlengkapan atau peralatan untuk disuplai kepada franchisee-nya, dan mampu membiayai keperluan promosi. Bagi pihak franchisee, modal dana yang kuat berguna untuk membeli paket franchise yang diinginkan, membeli peralatan dan perlengkapan lain di luar paket yang diinginkan, membeli persediaan bahan baku dan bahan jadi di luar paket jika terjadi lonjakan permintaan oleh konsumen, membayar sewa tempat, biaya perizinan usaha baik legal maupun illegal, dan biaya promosi jika promosi tidak masuk ke dalam paket franchise.

 

Permasalahan berikutnya yang dibahas di buku The Death of Franchise yaitu bisnis yang skalanya terlalu kecil sehingga tidak ideal untuk diwaralabakan. Bisnis yang skalanya terlalu kecil yaitu, bisnis yang produknya terlalu unik sehingga cenderung aneh, bisnis yang market-nya kecil, bisnis yang labanya kecil, memiliki model bisnis yang kompleks, dan bahan bakunya sulit diperoleh. Solusinya adalah membuka bisnis dengan produk yang merupakan konsumsi harian, membuka bisnis utama dengan didampingi produk lainnya agar bervariasi, model bisnis sederhana, bahan baku mudah didapatkan, dan pertumbuhan rielnya di atas jumlah inflasi.

 

Permasalah keempat yang dipaparkan oleh buku The Death of Franchise yaitu bisnis yang memiliki produk musiman. Apa definisi produk musiman tersebut? Agar lebih mudah memahaminya, di buku ini dipaparkan ciri dari produk musiman tersebut yaitu inovasinya terbatas, produk tentang gaya hidup yang menyasar remaja, belum memiliki basis pelangan setia sebelumnya, dibesarkan oleh pemberitaan yang sifatnya sensasi, hanya nyaman dikonsumsi di suatu tertentu atau lokasi tertentu, dan produknya bukan merupakan konsumsi harian.

 

Solusi untuk permasalahan keempat, dijelaskan di buku The Death of Franchise yakni agar bisnis bertahan lama kita dapat melakukan diferensiasi produk. Diferensiasi produk ini dapat dilakukan melalui kemasan, infrastruktur pelayanan atau lingkungan, dan kandungan produk. Diferensiasi yang paling disarankan adalah kandungan produk karena tidak bergantung kepada lokasi ataupun kemasan yang sifatnya like – dislike. Adapun jika terpaksa bisnis dengan produk musiman akan diwaralabakan, sebaiknya pihak franchisor harus secara terang-terangan menjelaskan kepada franchisee kemungkinan terburuk yang bisa terjadi sehingga tidak menimbulkan perselisihan di kemudian hari.

 

Next, permasalahan selanjutnya yang dibeberkan di buku The Death of Franchise adalah bisnis waralaba kita mati karena dikhianati oleh franchisee. Ada beberapa motif yang melatarbelakangi case ini, yaitu franchisee ingin mendapatkan uang lebih banyak dengan menjual barang-barang yang tidak disepakati sebelumnya, ingin mencuri ide bisnis, ingin membalas dendam atas luka masa lalu yang diberikan oleh orang lain, mengefisienkan keuangan dengan cara memproduksi bahan baku sendiri, ataupun karena ingin menghindari biaya tambahan saat akan membuka outlet franchise baru.

 

Anke Dwi Saputro sang penulis The Death of Franchise, pun dengan senang hati memberikan solusinya. Solusinya yaitu franchisor dapat memberikan kesempatan bagi franchisee untuk menjual produk lain tanpa franchisor meminta uang bagi hasil agar franchisee bisa mendapatkan lebih banyak uang, franchisor harus pintar membaca gelagat franchisee nakal yang ingin mencuri ide serta memutuskan hubungan jika telah terbukti bersalah, franchisor melakukan pendekatan yang manusiawi agar franchisee yang trauma bisa luluh, franchisor bisa memberikan diskon pembelian bahan baku agar usaha franchisee dapat terjaga keberlangsungannya, dan franchisor bisa memberikan diskon jika ada franchisee yang ingin membuka outlet baru.

 

Topik tentang franchisee yang bermasalah memang lumayan panjang dibahas di dalam buku The Death of Franchise. Anke Dwi Saputro bahkan menjelaskan secara detil tindakan preventif agar dapat menyaring franchisee yang baik sehingga kasus-kasus di atas tidak terjadi. Pengenalan atas karakter calon franchisee kita mutlak diperlukan. Pembicaraan yang intens sudah semestinya dilakukan. Adapun ciri-ciri dari franchisee idaman adalah sudah pernah menjalankan bisnis, bisnis yang dipinang adalah passion-nya, keluarganya harmonis, franchise ini bukan satu-satunya sumber penghasilannya, memiliki dana cadangan, mau fokus di bisnis, dan memiliki pendidikan yang cukup.

 

Buku The Death of Franchise ternyata tidak pilih kasih. Di buku ini juga dijelaskan etika yang sebaiknya dimiliki oleh franchisor saat memperlakukan franchisee. Beberapa kasus bahkan ditemui justru franchisor-nya yang nakal. Adapun perilaku bermoral yang harus dimiliki yaitu memberi dukungan supply bahan baku secara lancar, memberikan promosi di media secara berkala, training sumber daya manusia, memberikan dukungan quality control, dan dukungan konsultasi manajemen. Filosofi yang mendasari pemikiran ini adalah jika franchisee makmur, maka franchisor akan lebih makmur lagi.

 

Setelah membicarakan tentang lika liku franchisor dan franchisee, kemudian buku The Death of Franchise membahas juga permasalahan tentang sumber daya manusia atau dengan kata lain karyawan. Permasalahan yang secara umum ditemui adalah kualifikasi karyawan yang tidak mumpuni ataupun etika karyawan yang tidak baik. Terkadang pengusaha mempekerjakan karyawan dengan kualifikasi yang rendah untuk menekan biaya operasional, apalagi ditambah upah minimum regional yang tinggi seperti di Jakarta. Sedangkan untuk permasalahan etika, tidak jarang karyawan bahkan menjual resep produk milik pengusaha kepada kompetitor atau bahkan memeras pengusaha karena tahu bahwa pengusaha tersebut tidak memiliki kecakapan di bidang usaha yang digelutinya (misalnya pengusaha kuliner tapi tidak bisa memasak).

 

Untuk solusi terkait permasalahan sumber daya manusia, buku The Death of Franchise memaparkan ada baiknya sejak awal pengusaha sadar bahwa proses inti dari bisnis adalah produksi dan pemasaran. Sehingga idealnya pengusaha juga harus memiliki kecakapan sesuai bidang yang digelutinya. Misalnya seperti pengusaha kuliner setidaknya harus bisa memasak. Akan tetapi, jika keadaan tidak memungkinkan, bisa diakali dengan cara sedari awal telah membuat perjanjian kerja yang jelas dan mengikat untuk mengantisipasi permasalahan seperti ini.

 

Setelah membahas permasalahan karyawan, yang tidak kalah pentingnya dibahas oleh buku The Death of Franchise adalah permasalahan yang bisa disebabkan oleh franchisee yang nakal ataupun kompetitor. Hal ini biasanya menyangkut hak dan kekayaan intelektual. Penulis memaparkan kasus nyata yang dialaminya yakni franchisee yang ingin menyabotase brand milik franchisor karena tahu franchisor belum mendaftarkan brand-nya tersebut secara legal. Kemudian adanya kasus dimana kompetitor mempatenkan nama generik ataupun meniru konsep dari design product atau brand dari pengusaha yang mapan.

 

Bagaimana solusinya? Penulis di dalam buku The Death of Franchise, memaparkan dengan cerdik bahwa sebaiknya pengusaha tidak luput untuk mendaftarkan brand-nya saat memulai usaha. Adapun untuk kasus dimana kompetitor meniru-niru konsep bisnis kita, tidak perlu khawatir karena produk mereka mungkin akan mendapatkan brand awareness, tapi tidak akan mendapatkan brand association ataupun brand reputation.

 

Tidak kalah menarik di buku The Death of Franchise, penulis secara khusus membahas tentang permasalahan perang harga yang terkadang bisa menyebabkan suatu bisnis bangkrut. Adapun permasalahan ini biasanya disebabkan oleh kompetitor yang menurunkan harga produknya, harga bahan baku naik, upah minimum regional yang meningkat, supplier ikut menjalankan model bisnis yang sama, dan sewa properti yang meningkat dari tahun ke tahun.

 

Untuk kasus perang harga, Anke Dwi Saputro selaku penulis buku The Death of Franchise, memberikan pemecahan masalah yaitu jika disebabkan oleh kompetitor yang membanting harga, pengusaha tidak perlu panik selama produknya memiliki unique selling point. Jika penyebabnya adalah bahan baku yang naik, upah minimum regional yang meningkat, sewa properti yang terus naik, dan supplier yang ikut bergerak di bidang yang sama, maka franchisor sebaiknya memberikan keringanan harga kepada franchisee maksimal selama satu tahun. Jika setelah satu tahun keadaan masih sama, maka opsi untuk menaikkan harga jual bisa diambil.

 

Pengalaman penulis yang kaya kemudian mampu mengungkap permasalahan lain yang sering mendera pengusaha. Di buku The Death of Franchise, penulis juga mengingatkan agar sebaiknya pengusaha membatasi bidang bisnis yang digelutinya. Bisnis yang digeluti sebaiknya adalah bisnis yang dia paham betul. Ada baiknya pula jika fokus pada satu bisnis dahulu. Penulis mencontohkan banyak franchise yang kesulitan keuangan karena franchisor-nya menggunakan uang bisnis utama untuk membiayai bisnis sampingan. Efek domino lainnya yang bisa terjadi yaitu jika pengusah tidak fokus dengan bisnisnya, maka kualitas produk ataupun pelayanan bisa saja terjadi.

 

Akhirnya kita tiba di permasalahan terakhir yang dibahas di dalam buku The Death of Franchise, yaitu permasalahan dukungan sistem bisnis yang baik. Menurut hemat penulis, dukungan sistem yang baik akan meningkatkan reputasi dan laba bisnis. Adapun dukungan sistem yang baik menyangkut standar operasional rekruitmen pegawai, training, promosi dan demosi pegawai, promosi penjualan, display, penentuan lokasi outlet, administrasi penjualan, brand manual, penjualan, dan penerimaan keluhan pelanggan. Untuk mempermudah bahasan ini, penulis banyak menulis kisah nyata seputar franchisee yang tidak menjalankan sistem yang diberikan oleh franchisor. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, lambat laun bisnis waralaba ini gagal.

 

Sebagai penutup artikel ini, saya memandang bisnis waralaba adalah bisnis yang sama seperti model bisnis lainnya yaitu membutuhkan kerja cerdas dan kerja keras. Meskipun dengan membeli franchise kita sudah mempunyai produk yang dikenal masyarakat, namun kita tetap harus memikirkan pertumbuhan dan keberlangsungan bisnis kita. Ulasan ini sebagai bentuk rasa kagum saya terhadap buku The Death of Franchise ini. Untuk itu, saya menyarankan para pembaca artikel saya untuk membaca sendiri buku ini agar bisa merasakan sendiri paparan ilmu yang diberikan oleh Anke Dwi Saputro.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *