BUKU MAPAN KARYA NOVIE IMAN

https://www.zonadigipreneur.com/buku-mapan-karya-novie-iman/

 

Akhirnya saya sampai di artikel keempat..hehe. Di artikel kali ini saya mau membahas tentang buku yang baru saja saya baca yaitu berjudul Mapan karya Nofie Iman. Buat yang penasaran siapa Nofie Iman, dia adalah seorang praktisi sekaligus pendidik di bidang keuangan dan strategi. Saat ini dia adalah salah satu pendidik di Universitas Gajah Mada. Judul bukunya pun sangat eye catching karena orang-orang yang tertarik dengan bisnis pastilah mengejar kemapanan, bukan?..hehe.

 

Apa yang membuat saya tertarik untuk membaca buku ini?

 

Yang membuat saya tertarik untuk membaca buku Mapan adalah judulnya yang sangat simpel namun merupakan hal yang saya cari selama ini. Dari sejak saya kuliah, konsep ini begitu merasuki saya karena pada saat itu saya menganggap dengan kemapananan tersebut hidup seseorang akan bebas dari intervensi orang lain serta tidak merepotkan orang lain. Namun, apakah konsep yang ada di kepala saya ini sudah tepat? Berangkat dari hal ini, maka saya memutuskan untuk melahap buku ini.

 

 

Apa yang saya rasakan setelah membaca buku ini?

 

Setelah membaca buku Mapan, saya merasakan suatu kesalahan konsep tentang kemapanan yang tertanam di kepala saya. Di buku ini, Nofie Iman menyadarkan bahwa konsep kemapanan hendaknya mencakup mapan secara finansial dan mapan secara mental. Mapan secara finansial tanpa mapan secara mental mustahil mendatangkan kebahagian karena kita bisa melihat banyak orang yang memiliki kelimpahan materi namun hidupnya tidak bahagia. Bukankah kita selama ini mengejar kemapanan karena kita berpikir hal tersebut bisa mendatangkan kebahagiaan, bukan?

 

Lantas bagaimana kunci untuk mendatangkan kemapanan secara komprehensif tersebut? Di dalam buku Mapan ini, Nofie Iman memaparkan bahwa untuk mencapai hal tersebut yang perlu diketahui adalah memahami apa makna kemapanan itu sendiri, memahami apa niat kita mengejar kemapanan dan staregi untuk mendapatkannya. Diharapkan, dengan memahami hal ini maka apa yang kita kejar tersebut setelah kita dapatkan mampu memberi kebahagiaan untuk kita.

 

Mari kita bahas satu per satu, dimulai dari makna kemapanan. Makna kemapanan yang seharusnya dipahami adalah berdikari dalam finansial dan mental. Penulis menyiratkan bahwa makna mapan saat ini telah keliru yaitu hanya mapan pada finansial sehingga banyak orang yang kaya tapi hidupnya tidak bahagia ataupun sia-sia seperti misalnya menghabiskan waktunya dengan pamer ria di sosial media bersama barang mewah. Bukankah mereka terlihat menyedihkan?

 

 

Oke, kita lanjut membahas tentang niat yang tepat dalam mengejar kemapanan itu sendiri. Setiap orang pasti sepakat niat mereka dalam mengejar kemapanan pastilah karena ingin mendapatkan kebahagiaan. Namun pada faktanya, banyak orang kaya yang tidak bahagia. Lantas apa yang salah? Jika kita belajar dari buku ini, maka letak kesalahan adalah mereka tidak memantapkan kemapanan dalam hal mental. Seseorang yang mapan secara finansial dan mental sekaligus, maka dengan uang yang banyak tersebut mereka akan senang untuk berbagi dengan sesama. Sampai disini bisa disimpulkan bahwa niat yang benar adalah mengejar kemapanan agar menjadi pribadi mandiri yang suka berderma, karena disitulah kebahagiaan ditemukan.

 

Cukup jelaskah untuk sampai di poin tersebut? Menurut saya dua poin tersebut telah dipaparkan oleh penulis dengan jelas. Poin selanjutnya yang dipilih oleh penulis yaitu strategi untuk mendapatkan kemapanan finansial dan mental. Dalam memaparkan strategi tersebut, penulis sama sekali tidak memaparkan secara teknis misalnya bagaimana cara memilih saham yang baik ataupun instrumen investasi lainnya. Buku ini bisa dibilang hanya memaparkan secara garis besar. Saya merasa bahwa penulis berniat menjadikan buku ini sebagai pendorong semangat dan fokus karena banyak kasus dimana terjadi gap antara keinginan untuk maju dengan praktik yang lemah (transmission loss).

 

Secara garis besar, strategi yang dipaparkan untuk mencapai kemapanan finansial menurut buku Mapan adalah dengan memiliki waktu, modal (diperoleh dari pendapatan aktif), dan investasi. Menariknya, di buku ini penulis tidak percaya dengan istilah rencana cadangan, jadi menurutnya seseorang harus yakin dengan kompetensi dan tujuan bisnisnya sejak awal. Misalnya, seseorang dengan kompetensi di bidang teknologi, harus fokus membangun di bidang tersebut meskipun usahanya digucang masalah. Hal ini tentu berlawanan dengan teori umum, yaitu adanya pemisahan instrumen saat melakukan investasi.

 

Sedangkan strategi yang dipaparkan untuk mencapai kemapanan secara mental yaitu dengan memiliki karakter yang baik. Karakter yang baik ini berguna dalam perjalanan dalam mencapai prestasi, mempertahankan prestasi, dan menjadikan prestasi tersebut bermanfaat untuk kesejahteraan hidup orang lain. Karakter yang baik tersebut yaitu fokus, sabar, hemat, dermawan, dan religiusitas.

 

Lantas bagaimana untuk memiliki karakter-karakter tersebut? Fokus dapat diperoleh dengan mempraktekkan trik automatisasi dan optimalisasi. Kemudian untuk mampu sabar, penulis memaparkan beberapa penelitian yang mengungkapkan bahwa kesabaran dalam menunda kepuasaan sesaat akan mendatangkan keuntungan jangka panjang. Hal ini tentu untuk mendorong pembaca untuk tetap sabar dalam menjalankan kehidupannya. Untuk karakter dermawan dan hemat, penulis menceritakan kestabilan hidup yang diperoleh oleh orang-orang terkaya di dunia karena mereka memiliki gaya hidup tersebut. Seperti misalnya Mark Zuckerberg dan Bill Gates yang selalu tampil sederhana dan dermawan terbukti hidupnya lebih stabil dan jauh dari masalah. Sedangakn religiusitas diperoleh dengan hidup sesuai dengan tuntutan agama masing-masing.

 

 

Seperti buku-buku bisnis ataupun pengembangan diri lainnya, ada hal unik yang saya sukai dari buku ini. Di buku ini banyak dipaparkan hasil penelitian dan makna-makna dari fenomena sosial yang terkait pengembangan diri. Misalnya untuk mengajarkan kepada pembaca pentingnya berhemat, maka penulis menjelaskan tentang apa itu efek Diderot. Kemudian untuk membantu mempertahankan fokus kita, penulis menjelaskan tentang istilah decision fatigue dan bagaimana menghindarinya. Serta masih banyak fenomena lainnya. Kemudian tidak sampai disana saja, ada beberapa hasil penelitian dengan metode sosial eksperimen yang diungkap disini. Sungguh, ini sangat bermanfaat bagi pembaca yang memiliki latar belakang bukan dari ilmu bisnis.

 

Hal lain yang saya suka dari buku ini yakni menekankan bahwa faktor keberuntungan dalam mencapai prestasi adalah faktor yang sangat penting. Bisnis apa yang tidak memerlukan keberuntungan atau kesempatan, bukan? Penulis menyarankan tidak ada salahnya agar kita mendekat kepada Tuhan agar dapat memperoleh kedua hal tersebut karena menurutnya, hingga kini para pakar pskilogi pun belum bisa menemukan hal ilmiah apa yang bisa diupayakan untuk mendapatkan keberuntungan.

 

Hal lainnya yang menurut saya berkesan dari buku Mapan yaitu, anjuran penulis agar pembaca bebas menerapkan atau tidak sepenuhnya menerapkan sarannya tersebut. Hal ini dianjurkannya karena penulis menyadari bahwa tiap orang itu unik dan membawa peta hidupnya masing-masing. Jadi sah-sah saja untuk melakukan hal tersebut.

 

Sebelum mengakhiri ulasan ini, saya sebagai pembaca tentu merasakan ada saran-saran dari buku ini yang masih saya ragukan. Saran yang saya ragukan misalnya tentang tidak perlu memiliki rencana cadangan (termasuk tidak perlu melakukan diversifikasi investasi) dan saran untuk tidak menggunakan asuransi (sepenuhnya bergantung kepada doa dan sedekah untuk menghindari dari marabahaya). Saya pribadi lebih suka memilih opsi melakukan diversifikasi, karena setiap instrumen tentu memiliki risiko yang berbeda. Sedangkan terkait hal untuk mengandalkan doa dan sedekah saja, saya merasa tidak ada salahnya mengikuti asuransi karena sebagai bentuk dari ikhtiar juga.

 

Akhir kata, menurut saya buku ini bagus dibaca terutama bagi para dewasa awal yang mulai memikirkan tertarik dengan konsep kemapanan, bagi siapapun yang tertarik dengan dunia bisnis tapi berasal dari luar ilmu tersebut, dan juga berguna bagi siapapun yang ingin menghilangkan transmission loss yaitu jarak yang tercipta antara niatnya untuk mapan dengan praktiknya yang seringkali melempem karena kurangnya semangat. Nah, kalau sudah tahu  bagus, yuk dibaca bareng-bareng..hehe.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *