BUKU FILOSOFI TERAS KARYA HENRY MANAMPIRING

https://www.zonadigipreneur.com/buku-filosofi-teras/

 

Buku Filosofi Teras Karya Henry Manampiring adalah buku berikutnya yang ingin saya ulas. Buku ini adalah “pengantar filosofi” yang baru saja saya baca. Istilah pengantar filosofi ini adalah karangan saya sendiri ya..hehe. Kenapa saya iseng banget menciptakan istilah ini, karena penulisnya yaitu Henry Manampiring berulang-ulang di dalam buku ini menegaskan bahwa dirinya sadar bahwa selaku penulis buku filosofi, dia bukanlah seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang filosofi. Buku ini ditulisnya sekedar berbagi pengalaman hidup bahwa dia telah menemukan solusi kehidupan di dalam Filosofi Teras. Penulis mengganggap buku ini adalah appetizer bagi pembaca yang tertarik degan Filosofi Teras.

 

Apa yang membuat saya memutuskan untuk membaca buku ini?

 

Alasannya adalah karena curhat yang diberikan oleh salah satu pengguna media sosial Quora. Si pengguna bercerita bahwa buku yang sangat membantu dia untuk tetap kalem di tengah – tengah perlakuan negatif yang diterimanya karena dia mempraktekkan apa yang diajarkan di dalam Filosofi Stoa. Kata-kata yang begitu menempel di benak saya adalah ketika dia menjelaskan bahwa kesenangan tidak sama dengan kebahagiaan. Sebagai contoh dia mengatakan bahwa apa-apa yang ditunjukkan di media sosial seperti Facebook atau Instagram boleh jadi adalah kesenangan namun belum tentu kebahagiaan. Dan masih banyak contoh lainnya, tetapi itu yang paling saya ingat. Singkatnya, dia merekomendasikan buku Filosofi Teras bagi siapapun yang tertarik mempelajari Filosofi Stoa. di kemudian hari, saya baru tahu jika buku ini pada tahun 2019 meraih penghargaan Book of The Year yang diberikan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI).

Apa yang saya rasakan setelah membaca buku ini?

 

Dari awal saya membaca buku Filosofi Teras, saya merasa dengan rendah hati penulis mengakui bahwa dirinya tidak memiliki latar belakang apapun tentang filosofi dan kesehatan, sehingga dia hanya ingin berbagi pengalamannya sembuh dari depresi karena telah mempraktikan Filosofi Teras. Untuk itu, di dalam buku ini penulis juga melakukan beberapa wawancara dengan tiga profesional yang berkecimpung di bidang kesehatan yakni satu psikiater dan dua psikolog (klinis dan pendidikan). Disamping itu, penulis juga melakukan wawancara dengan dua praktisi media tentang bagaimana kiat mereka dalam melakukan manajemen stres.

 

Sebelum mulai menerangkan seluk beluk Filosofi Teras, penulis memberikan cuplikan wawancaranya dengan Dr. Andri SpKJ, FAPM yang merupakan seorang psikiater. Melalui wawancara ini, saya pribadi merasa seolah penulis ingin pembaca mengambil kesimpulan bahwa stres yang tidak bisa dikendalikan dengan baik akan mengakibatkan beberapa masalah seperti masalah kesehatan (psikosomatis) dan sosial. Dan cara yang bisa dilakukan untuk mengendalikan stres adalah melalui manajemen persepsi sehingga dibutuhkan sebuah way of life yang tepat.

 

Kemudian di beberapa halaman selanjutnya, penulis buku Filosofi Teras menceritakan perjalanannya dalam menemukan way of life yang dirasa pas olehnya. Dalam proses tersebut, penulis menemukan beberapa hasil riset yang diberikan oleh para psikolog mengenai cara berpikir yang baik. Secara garis besar, riset tersebut memaparkan suatu teori bahwa hanya mengandalkan positive thinking saja tidaklah cukup. Mindset yang baik adalah melakukan mental contrasting yaitu mengombinasikan antara membayangkan hasil yang diharapkan dengan hambatan-hambatan yang mungkin terjadi. Ketika memaparkan hal ini, saya pribadi merasa penulis kembali menuntun pembaca bahwa laku hidup yang baik adalah yang menemukan keseimbangan diantara keduanya sehingga filosofi yang tepat adalah yang memiliki konsep tersebut.

 

Pada pemaparan lebih lanjut, penulis menyatakan bahwa dirinya menemukan apa yang dicarinya selama ini ada pada Filosofi Teras karena filosofi ini bukan hanya tentang mengombinasikan antara harapan dan kesadaran akan adanya hambatan di dalam kehidupan, tetapi juga tentang mengasah kebajikan. Meskipun begitu, penulis juga menyadari bahwa filosofi ini tidak menutup kemungkinan sudah ada di dalam agama yang dianut oleh pembaca, hanya saja filosofi adalah sesuatu yang bebas dogma sehingga bisa dipelajari oleh siapapun tanpa melihat identitas si pembaca apakah beragama maupun tidak beragama.

 

Selanjutnya, penulis mulai menceritakan latar belakang sejarah Filosofi Teras ini. Filosofi ini diperkenalkan oleh Zeno pada 300 tahun sebelum masehi. Filosofi ini lahir atas tragedi yang menimpa Zeno. Tragedi tersebut yaitu ketika Zeno yang seorang pedagang tersebut mengalami kapal karam sehingga barang dagangannya yang berisi barang-barang mewah harus hilang dan dia terdampar di Athena. Di kota ini, Zeno kemudian mempelajari filosofi dari beberapa filsuf dan kemudian pada akhirnya memutuskan untuk mengajarkan filosofinya sendiri. Pada saat mengajar, Zeno senang mengajar di teras yang berpilar. Dalam bahasa Yunani, teras berpilar disebut Stoa sehingga ajaran Zeno disebut sebagai Filosofi Stoa (Stoisisme). Di dalam buku ini, Filosofi Stoa diistilahkan dengan Filosofi Teras sesuai dengan arti kebahasaan pada bahasa bahasa Indonesia agar lebih ear-catching.

 

Setelah memperkenalkan tentang latar belakang filosofi ini, penulis kemudian memaparkan beberapa konsep dari filosofi ini secara mendetail. Salah satu konsep tersebut yaitu kebajikan. Kebajikan menurut Filosofi Teras adalah hidup yang selaras dengan alam. Menariknya adalah menurut Filosofi Teras, hidup yang selaras dengan alam bukan hanya sekedar menjaga kelestarian alam. Hidup yang selaras dengan alam adalah hidup yang menyadari hakikat yang ada pada setiap makhluk hidup. Sebagai contoh, sadar bahwa manusia adalah makhluk yang pada hakikatnya terlahir memiliki rasio sehingga manusia yang hidup selaras dengan alam adalah manusia yang menggunakan rasionya di setiap aspek kehidupan. Manusia yang telah menggunakan rasionya dengan baik akan menyadari bahwa hidup terdiri dari trikotomi kendali yaitu hal – hal yang sepenuhnya bisa dia kendalikan, hal-hal yang sebagian bisa dia kendalikan, dan hal-hal yang sepenuhnya tidak bisa dia kendalikan. Menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang hanya sebagian atau tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan adalah sesuatu yang irasional. Tindakan ini tidak selaras dengan alam sehingga otomatis bukanlah suatu kebajikan.

 

Saat sampai pada bahasan tentang trikotomi kendali, saya pribadi sempat berpikir apakah ini berarti menurut Filosofi Teras mengejar kesehatan, persahabatan, kekayaan, dan hal lainnya yang termasuk ke dalam kategori hal-hal yang tidak sepenuhnya di dalam kendali kita adalah sesuatu yang salah? Ternyata tidak, mengejar hal-hal tersebut tidak mengapa asalkan selama dalam prosesnya menyadari bahwa jika gagal memperolehnya maka hal tersebut bukanlah tolak ukur dalam menilai harga diri seseorang. Lebih jauh, mindset ini diharapkan menghindarkan kita dari perasaan tidak bahagia saat gagal memperoleh hal-hal tersebut. Kebahagiaan sejatinya diperoleh dari hal-hal yang sepenuhnya ada di dalam kendali kita seperti opini, persepsi, tujuan, pikiran, dan tindakan kita sendiri.

 

Konsep kedua di dalam buku Filosofi Teras yang menarik perhatian saya adalah konsep hidup bebas dari perasaan negatif. Pada konsep ini dikenalkan istilah premeditatio malorum. Premeditatio malorum adalah pikirkan hal-hal jahat atau negatif yang mungkin terjadi. Saya sempat aneh saat baru membaca konsep ini, terasa seperti kontradiktif ya. Ternyata konsep ini bisa dipahami jika sudah paham konsep kebajikan di atas. Jadi singkatnya, dengan memikirkan kemungkinan negatif atau hambatan apa saja yang bisa terjadi dalam rangka mencapai goals yang kita inginkan, kita sadar bahwa ada hal – hal yang tidak sepenuhnya ada di dalam kendali kita ataupun hal- hal yang hanya sebagian ada di dalam kendali kita sehingga dapat mempersiapkan diri untuk mengantisipasinya. Namun jika kemudian hal-hal negatif tersebut menjadi kenyataan, hal tersebut tidak mencerabut kebahagiaan dari diri kita karena sadar bahwa kebahagiaan seharusnya hanya bergantung pada hal-hal yang bisa sepenuhnya kita kendalikan.

 

Lebih jauh tentang konsep premeditatio malorum ini, penulis buku Filosofi Teras ini bahkan menganjurkan untuk mempraktikkan dengan apa yang disebutnya sebagai poverty practice. Poverty practice ini adalah sesekali melatih diri hidup di bawah kemampuan ekonomi kita. Tujuan yang pertama yaitu dengan sesekali melatih diri hidup dengan dibawah standar kenyamanan kita sehari-hari, diharapkan jika hal tersebut benar-benar terjadi maka tidak ada ‘culture shock’. Tujuan kedua adalah untuk menghindari hedonic adaptation. Hedonic adaptation adalah kondisi dimana kita terbiasa dengan kenikmatan yang kita peroleh sehingga lama kelamaan kenikmatan tersebut sudah tidak berarti lagi untuk kita. Hemat penulis, agar kita terhindar dari hedonic adaptation atau bersyukur maka sesekali kita perlu sedikit ‘menyiksa diri’.

 

Selebihnya, di dalam buku ini banyak sekali curhat penulis tentang aplikasi Filosofi Teras di kehidupan pribadinya. Saya hanya akan tulis salah satunya saja ya, biar ngga spoiler banget..hehe. Salah satu hal tersebut yaitu tentang parenting. Saat menulis buku ini, penulis curhat bahwa pikiran negatif seringkali muncul di benaknya terkait parenting. Kemudian terbersit ide di benaknya untuk kemudian mewawancarai psikolog. Psikolog tersebut yaitu Wiwit Puspitasari dan Agstried Piethers. Wawancara yang dilakukan kepada keduanya sampai pada kesimpulan bahwa parenting adalah berdamai dengan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Dan di dalam ilmu psikologi terdapat dua cara untuk berdamai dengan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan yaitu melalui problem-focused copying atau emotional-focused copying.

 

Di buku Filosofi Teras ini juga memaparkan dua wawancara yang dilakukan penulis terhadap dua praktisi media yaitu Llia Halimatussadiah dan Citta Cania Irlanie. Saya pribadi menangkap kesan bahwa diperlukan wawancara dengan narasumber umum untuk menegaskan bahwa Filosofi Teras adalah filosofi praktis. Pada intinya, dua narasumber ini telah menjalankan konsep yang ada di dalam Filosofi Teras karena berguna di kehidupan mereka yaitu menguatkan mental saat haters menyerang tulisan yang mereka published ataupun berguna saat mereka punya masalah dengan clients, customers, ataupun staff sehingga tidak baper.

 

Adapun hal lainnya yang ingin saya tulis di sini yaitu penulis juga menyatakan bahwa Filosofi Teras ini tidak nihil pro dan kontra. Saat berbicara tentang melakukan perubahan atas permasalahan sosial yang pada umumnya menyangkut orang banyak, terdapat dua pendapat tentang hal ini. Pendapat yang kontra dibangun dari persepsi bawah Filosofi Stoa adalah cukup mengurusi hal-hal yang sifatnya dapat sepenuhnya mereka kendalikan, sehingga diluar hal tersebut bukan kewajiban kaum Stoa. Sedangkan pendapat yang pro adalah pendapat yang dibangun dari persepsi bahwa Filsosofi Stoa mengajarkan tentang mengasah kebajikan, sehingga ikut membantu di dalam permasalahan dunia yang besar seperti diskriminasi, keadilan sosial, dan lain-lainnya juga termasuk di dalamnya.

 

Sebagai penutup artikel ini, saya pribadi merasa bahwa ajaran ini baik karena realistis yaitu mengombinasikan antara harapan, kewaspadaan, dan berserah diri kepada kekuatan yang lebih besar dari kita. Diharapkan ini bisa menjadi formula untuk mencapai kebahagiaan yang diharapkan.

 

Btw, ini persepsi saya tentang buku ini, bagaimana dengan persepsi kamu?

6 thoughts on “BUKU FILOSOFI TERAS KARYA HENRY MANAMPIRING”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *